Untukkerabat yang nafkahnya tidak ditanggung oleh si pemberi zakat, maka dianjurkan mendahulukan memberikan zakat kepada mereka, daripada selain mereka. Foto/Ilustrasi: Birming Hammail Menyerahkan zakat atau sedekah sunnah kepada keluarga sendiri yang masuk kategori tidak mampu bukanlah sesuatu yang asing di kalangan umat Islam.
Sikaphikmah dalam berdakwah adalah memperbaiki kondisi masyarakat di negerinya sendiri sebelum yang lain. Bahkan, (memperbaiki kondisi) keluarganya terlebih dahulu, sebelum yang lain, kemudian ke masyarakat yang terdekat, dan seterusnya. Hal ini dalam rangka mengikuti petunjuk Allah Ta’ala kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam
Seorangmukmin didunia ini memerlukan bekal yang cukup untuk mengantarkannya kepada kesalihan dan ketakwaan. Ini sebuah keharusan yang selalu diingat dan diingatkan, sebab hal ini menjadi kunci kebahagian seorang didunia sebelum nantinya memetic hasilnya di Syurga Allah Ta’ala. Oleh karena itu Rasulullah n menjadi contoh teladan terbaik dalam
h5lWl1. Ilustrasi Asmaul Husna. Foto FreepikAsmaul Husna adalah nama-nama baik yang dimiliki Allah SWT. Asmaul Husna berjumlah 99 nama yang menggambarkan sifat-sifat Allah SWT, salah satunya yaitu Al bahasa, Al Muqaddim artinya mendahulukan atau keberadaan di depan. Jadi, Allah Al Muqaddim artinya Allah mendahulukan apa dan siapapun yang dikehendaki-Nya. Allah mendahulukan petunjuk sebelum satu contoh asma Allah yang berada pada urutan ke-71 Asmaul Husna ini yaitu peringatan kematian yang telah diserukan oleh Allah SWT sebelum itu terjadi. Alhasil, umat Muslim bisa mempersiapkan amal ibadahnya sebelum kembali ke sisi Allah SWT. Hal ini sebagaimana firman Allah yang berbunyiكُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۗوَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَIlusArtinya “Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” QS. Al Anbiya ayat 35.Selain itu, sebelum menciptakan manusia, Allah terlebih dulu menciptakan sarana kehidupan yakni bumi dan alam semesta. Allah juga selalu memberi petunjuk sebelum memberikan tugas kepada manusia untuk menjadi khalifah di Quran menerangkan, “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memerhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok akhirat. Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” QS. Al-Hasyr Ayat 18Cara Mengamalkan Al MuqaddimIlustrasi Cara Mengamalkan Al Muqaddim. Foto Shutter StockBerikut cara-cara mengamalkan sifat Allah Al Berlomba-lomba dalam Berbuat KebaikanDalam berbuat kebaikan, jangan menunggu orang lain berbuat baik terlebih dahulu, tetapi jadilah orang pertama yang memberikan Mengerjakan Sesuatu yang Bermanfaat untuk Masa DepanCara lain untuk mengamalkan Al Muqaddim dapat dilakukan dengan mengerjakan sesuatu yang bermanfaat untuk masa depan. Contohnya, tukang kayu membuat meja, kursi, dan lemari yang bisa digunakan banyak Jangan Menunda-nunda Pekerjaan Hal ini sebagaimana difirmankan Allah, yakni “Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam mengerjakan perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” QS. Al Anbiya ayat 904. Mendahulukan Kepentingan Umum Daripada Kepentingan Diri SendiriManusia sebagai makhluk sosial harus mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan diri sendiri, karena memiliki dampak yang lebih luas.
Ilustrasi Jelaskan makna Al Muqaddim sebagai riuk satu asmaul husna. Foto Jelaskan makna Al Muqaddim sebagai keseleo suatu asmaul husna ! Tanya tersebut acap kali diberikan murid di indra penglihatan pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Kepribadian Pekerti kelas 6. Seperti mana yang diketahui, Allah SWT yakni Dzat yang menciptakan segala alam segenap dengan contoh. Allah sekali lagi n kepunyaan jenama yang terdiri bermula 99 yang disebut bagaikan asmaul husna. Lantas, apa makna berasal tera asmaul husna Al Muqaddim? Konotasi Asmaul Husna Secara bahasa, kata asmaul husna pecah berbunga kata al-asma artinya nama yang merupakan rancangan lumrah, sementara al-isma merupakan bentuk tunggalnya. Padahal al-husna artinya yang paling kecil baik. Sehingga, signifikasi dari asmaul husna adalah nama-nama Allah SWT yang terindah atau terbaik. وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ Artinya, “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran n domestik menyebut nama-nama-Nya. Kemudian hari mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” Makna Al Muqaddim Muhammad Syafi’i al-Bantani internal bukunya Rahasia Keluarbiasaan Asmaul Husna 2009142 , secara bahasa, Al Muqaddim artinya mendahulukan ataupun keberadaan di depan. Makara, Allah Al Muqaddim artinya Halikuljabbar mendahulukan sebelum peringatan-Nya dan siapapun nan dikehendaki-Nya. Ilustrasi asmaul husna. Foto Hipotetis Asmaul Husna Al Muqaddim Contoh berasal asmaul husna Al Muqqadim adalah Allah mendahulukan peringatan tentang kematian sebelum datanganya kematian itu n domestik Surat Al-Anbiya ayat 35. كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ Artinya, “Per yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji engkau dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan nan sebenar-benarnya. Dan doang kepada Kamilah ia dikembalikan.” Selain itu, sebelum Tuhan SWT menciptakan manusia, Halikuljabbar SWT terlebih dulu menciptakan majemuk media kehidupan di manjapada dan alam semesta ini. Tuhan SWT sekali lagi burung laut memberikan tajali kepada umat-umat pilihannya sebelum memberikan tugas kepada makhluk untuk menjadi khalifah di bumi. يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ Artinya, “Hai manusia-makhluk nan beriman, bertakwalah kepada Tuhan dan hendaklah setiap diri kecam apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok alam baka; dan bertakwalah kepada Yang mahakuasa, sepatutnya ada Yang mahakuasa Maha Memafhumi apa nan kamu bagi.” QS. Al-Hasyr ayat 18-19 Dari penjelasan pendek adapun makna asmaul husna Al-Muqaddim dalam pelajaran Agama, dapat kita ketahui bahwa Allah SWT menyerahkan nubuat terlebih dahulu kepada umat-Nya sebelum memberikan tugas, terutama kepada manusia seumpama khalifah manjapada.MZM Source
Al-Mu’akhkhir, Maha Mengakhirkan merupakan antonim al-Muqaddim, Maha Mendahulukan. Bermula segi Zat-Nya, Allah itu Maha yang Permulaan al-Awwal, enggak ada satupuan yang mendahului eksistensi-Nya. Dan Almalik itu Maha Keladak al-Penghabisan, tak cak semau sesuatu nan produktif eksis selepas-Nya. Allah itu Maha Mengakhirkan, dalam manfaat menempatkan di belakang, baik privat waktu, peristiwa, kedudukan, atau gelanggang. Al-Mu’akhkhir misal salah satu al-Asma’ al-Husna tidak ditemukan privat al-Qur’an, cuma disebut oleh Rasul Muhammad Saw dalam bilang hadisnya. Pelecok satunya disebut di penutup doa tahajjudnya, “Anta al-Muqaddim wa Anta al-Mu’akhkhir” Engkau ialah Maha Mendahulukan dan Kamu kembali Maha Membelakangkan HR Muslim. Jadi, al-Mu’akhkhir diyakini ibarat nama terbaik Allah nan terkait dengan sifat Zat dan sifat perbuatan-Nya, antara enggak mengakhirkan azab, belaka mengerapkan rahmat dan ampunan-Nya. Dalam al-Qur’an dijumpai delapan kali alas kata “akhkhara”, berupa pernyataan langsung berpunca Allah SwT sebagai Praktisi dengan tiga macam objek, yakni menyorong siksa, memerosokkan sesuatu hingga batas waktu tertentu, dan lain memerosokkan kehadiran mangkat kematian apabila telah datang waktunya. Di antaranya, “lega hari itu diberitahukan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya, dan apa yang ditangguhkan/dilalaikannya.” QS al-Qiyamah [75] 13 “Dan berikanlah peringatan kepada anak adam terhadap hari yang pada waktu itu cak bertengger azab kepada mereka, maka berkatalah orang-bani adam zalim “Ya Almalik kami, beri tangguhlah kami kembalikanlah kami ke dunia walaupun n domestik tahun yang sedikit, niscaya kami akan memenuhi seruan Engkau dan akan mengikuti Utusan tuhan-rasul.” Kepada mereka dikatakan “Bukanlah kamu telah bersumpah dahulu di dunia bahwa sesekali anda lain akan binasa.” QS. Ibrahim [14] 44 al-Mu’akhkhir, Yang mahakuasa Maha Mengakhirkan aniaya dan menyegerakan peringatan-Nya. Allah mengakhirkan ancaman kesengsaraan, dan mendahulukan tanzil-Nya. Yang mahakuasa menyeringkan khasiat makhluk-makhluk-Nya atas amalan-amalan untuk-Nya. Halikuljabbar lagi mengakhirkan perintah bersyukur kepada-Nya, doang mendahulukan perintah berbuat baik kepada-Nya. Mendahulukan dan mengakhirkan atau menangguhkan sesuatu itu sesuai dengan ketentuan dan hikmah yang dikehendaki-Nya. وَلَوْ يُؤَاخِذُ اللَّهُ النَّاسَ بِظُلْمِهِمْ مَا تَرَكَ عَلَيْهَا مِنْ دَابَّةٍ وَلَكِنْ يُؤَخِّرُهُمْ إِلَى أَجَلٍ مُسَمًّى فَإِذَا جَاءَ أَجَلُهُمْ لَا يَسْتَأْخِرُونَ سَاعَةً وَلَا يَسْتَقْدِمُونَ النحل61 “Sekiranya Tuhan menghukum basyar karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di roman dunia sesuatupun berasal makhluk nan melata, namun Allah menangguhkan mereka sampai plong waktu nan ditentukan, sehingga apabila telah tiba perian yang ditentukan cak bagi mereka, tidaklah mereka dapat mengundurkannya sesaatpun dan tidak sekali lagi mendahulukannya.” QS. an-Nahl [16] 61. Sebagai contoh, tujuan pengakhiran azab akhirat dengan membebankan musibah, bencana, atau “siksa kecil ibarat peringatan” detik kehidupan di mayapada adalah semoga sosok sadar dan bersedia untuk bertobat dan sekali lagi ke jalan yang benar. “Dan Sesungguhnya Kami membuat mereka merasakan sebagian azab yang dekat di dunia sebelum azab nan lebih lautan di akhirat; mudah-mudahan mereka sekali lagi ke jalan yang bermartabat.” QS as-Sajdah [32] 21 Bermula merek al-Muakhkhir tersebut, setidaknya ada dua kategori ta’khir pengakhiran, penundaan, yaitu ta’khir kauni dan ta’khir syar’i. Pengakhiran eksistensial ta’khir kauni berkaitan dengan kelahiran, ajal kematian, rezeki, kedudukan, dan aneka peristiwa yang sudah ditetapkan Almalik SwT pasti terjadi puas anak adam-Nya di perian, tempat, dan kondisi tertentu. Semuanya menjadi nasib baik hak istimewa Allah, masa dan ajang kejadiannya tentu, tidak meleset, dan tidak dapat dimajukan. Jika ajal seseorang diakhirkan, maka makhluk itu meninggal belakangan dibanding khalayak lain. Seseorang diakhirkan rezekinya daripada orang tak, berjasa engkau makin miskin ketimbang orang tak, dan seterusnya. Adapun pengakhiran regulasional ta’khir syar’i itu berkaitan dengan amaliah ibadah tertentu pula. Dalam peristiwa ini, Nabi Saw diberi “wewenang” bakal menjadwalkan dan memberikan keteladanannya. Misalnya, disunahkan mendahulukan ta’jil berbuka puasa daripada melaksanakan shalat Maghrib; sebaliknya disunahkan mengemudiankan santap sahur. “Ketika mengadakan perjalanan, apabila tiba sebelum rawi membidik ke Barat belum masuk waktu zhuhur, Rasul SAW memutuskan shalat zhuhur dan menjamaknya di waktu ashar jamak ta’khir. Sebaliknya, jika start setelah waktu zhuhur tiba, beliau memacu shalat zhuhur dan menjamak taqdim di tahun shalat zhuhur.” HR al-Bukhari Meneladani resan Allah al-Mu’akhir mengharuskan kita mendahulukan dan mengakhirkan barang apa sesuatu sesuai dengan petunjuk-Nya. “Hai orang-orang berketentuan, janganlah engkau mendahului Sang pencipta dan Rasul-Nya, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh Allah Maha Mendengar pun Maha Memahami.” QS. Al-Hujurat [49] 1. Artinya, hamba harus senantiasa mengakhirkan ego sektoral, perasaan dan pikiran subyektifnya dengan mendahulukan petunjuk Allah dan keteladanan Rasul-Nya. Menjadi hamba al-Mu’akhkhir meniscayakan pentingnya mengkaji dan memaklumi ayat-ayat Qur’aniyyah dan ayat-ayat kauniyyah alam semesta secara holistik-integratif dengan terus belajar, meluaskan ilmu pengetahuan, dan meneladani role model Nabi Saw. Hamba al-Mu’akhkhir harus selalu berpikir dalam-dalam positif dan berbaik sangka kepada ketetapan Allah Swt plong makhluk-Nya, dengan senantiasa bersikap arif dan cak hendak mengambil hikmah di mengsol semua yang terjadi di alam raya ini, seraya memufakati dan mengagumi-Nya “Ya Sang pencipta kami, tiadalah Kamu menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Dia, maka peliharalah kami berbunga siksa neraka.” QS Ali Imran [3] 191 Dr Muhbib Abdul Wahab MA, Dosen Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Duta Superior IMLA Indonesia. Sumber Majalah Suara minor Muhammadiyah edisi 16-31 Agustus 2020. mf Views 583
Taman Islam ilustrasi. Tafsir Surat Al-Isra Ayat 16 Peringatan Allah Sebelum Suatu Negeri Dibinasakan JAKARTA - Jika suatu negeri sudah layak untuk dibinasakan karena perbuatan dosa penghuni negeri itu sudah melampaui batas. Maka Alquran mengingatkan orang-orang yang hidup bermewah-mewahan yakni para pemimpin negeri itu agar mentaati Allah SWT, peringatan itu disampaikan untuk memberi mereka kesempatan bertaubat sebelum mereka dibinasakan. Hal ini dijelaskan dalam Surat Al-Isra Ayat 16 dan اَرَدْنَآ اَنْ نُّهْلِكَ قَرْيَةً اَمَرْنَا مُتْرَفِيْهَا فَفَسَقُوْا فِيْهَا فَحَقَّ عَلَيْهَا الْقَوْلُ فَدَمَّرْنٰهَا تَدْمِيْرًا Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang yang hidup mewah di negeri itu agar menaati Allah, tetapi bila mereka melakukan kedurhakaan di dalam negeri itu, maka sepantasnya berlakulah terhadapnya perkataan hukuman Kami, kemudian Kami binasakan sama sekali negeri itu. QS Al-Isra 16Tafsir Kementerian Agama menerangkan dalam ayat ini Allah SWT menjelaskan bahwa apabila Dia berkehendak untuk membinasakan suatu negeri, maka Allah SWT memerintahkan kepada orang-orang yang hidup bermewah-mewah di negeri itu supaya menaati Allah. Maksudnya apabila suatu kaum telah melakukan kemaksiatan dan kejahatan secara merata dan pantas dijatuhi siksaan, maka Allah SWT karena keadilan-Nya, tidak segera menjatuhkan siksaan sebelum memberikan peringatan kepada para pemimpin mereka untuk menghentikan kemaksiatan dan kejahatan kaumnya dan segera kembali taat kepada ajaran tetapi, dari sejarah kita mengetahui orang-orang yang jauh dari hidayah Allah tidak mau mendengarkan peringatan itu, bahkan mereka menjadi pembangkang dan penentang Allah. Allah lalu memusnahkan mereka dari muka bumi dengan berbagai azab, baik berupa bencana alam, maupun bencana-bencana ketentuan Allah yang tak dapat dielakkan. Allah menghancurkan negeri itu sehancur-hancurnya, sehingga tidak ada sedikit pun yang tersisa, baik rumah-rumah maupun harta kekayaan mereka.
33 Ayat Al-Quran Tentang Peringatan – Allah Subhanahu Wa Ta’ala telah banyak memberikan umat manusia peringatan. Adapun peringatan Allah adalah berupa ancaman azab-Nya, neraka-Nya, dan siksaan-Nya, baik itu di dunia maupun di akhirat. Allah Ta’ala telah mengutus para rasul-Nya juga salah satu tujuannya adalah sebagai pemberi peringatan. Allah juga telah menurunkan kitab-kitab-Nya di antara fungsinya adalah untuk memberi peringatan. Bahkan, memberi peringatan adalah perintah langsung dari Allah kepada kita karena sesungguhnya peringatan itu sangat bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Baca Juga 23 Ayat Al-Quran Tentang Orang Bertaqwa Pada tulisan kali ini blog Al-Quran Pedia akan membahas mengenai ayat-ayat Al-Quran yang membicarakan tentang peringatan. Simak selengkapnya di bawah ini. 1 Sekali-kali jangan demikian! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan, Abasa’ 11 2 Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Ad-Dukhaan 3 3 Maka segeralah kembali kepada mentaati Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu mengadakan tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Adz-Dzaariyaat 50-51 4 Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. Adz-Dzaariyaat 55 5 Dan orang-orang kafir Mekah berkata "Mengapa tidak diturunkan kepadanya mukjizat-mukjizat dari Tuhannya?" Katakanlah "Sesungguhnya mukjizat- mukjizat itu terserah kepada Allah. Dan sesungguhnya aku hanya seorang pemberi peringatan yang nyata." Al-Ankabuut 50 6 oleh sebab itu berikanlah peringatan karena peringatan itu bermanfaat, Al-A’laa 9 7 Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu kepada orang kafir, dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Al-A’raaf 2 8 Apakah mereka lalai dan tidak memikirkan bahwa teman mereka Muhammad tidak berpenyakit gila. Dia Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan lagi pemberi penjelasan. Al-A’raaf 184 9 Katakanlah "Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak pula menolak kemudharatan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang ghaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudharatan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman." Al-A’raaf 188 10 Katakanlah "Aku bukanlah rasul yang pertama di antara rasul-rasul dan aku tidak mengetahui apa yang akan diperbuat terhadapku dan tidak pula terhadapmu. Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dan aku tidak lain hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan." Al-Ahqaaf 9 11 Dan sebelum Al-Quran itu telah ada kitab Musa sebagai petunjuk dan rahmat. Dan ini Al-Quran adalah kitab yang membenarkannya dalam bahasa Arab untuk memberi peringatan kepada orang-orang yang zalim dan memberi kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik. Al-Ahqaaf 12 12 Dan ingatlah ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan nya lalu mereka berkata "Diamlah kamu untuk mendengarkannya." Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya untuk memberi peringatan. Al-Ahqaaf 29 13 Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, Al-Ahzaab 45 14 Katakanlah "Siapakah yang lebih kuat persaksiannya?" Katakanlah "Allah." Dia menjadi saksi antara aku dan kamu. Dan Al-Quran ini diwahyukan kepadaku supaya dengan dia aku memberi peringatan kepadamu dan kepada orang-orang yang sampai Al-Quran kepadanya. Apakah sesungguhnya kamu mengakui bahwa ada tuhan-tuhan lain di samping Allah?" Katakanlah "Aku tidak mengakui." Katakanlah "Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Esa dan sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan dengan Allah." Al-An’aam 19 15 Dan tidaklah Kami mengutus para rasul itu melainkan untuk memberikan kabar gembira dan memberi peringatan. Barangsiapa yang beriman dan mengadakan perbaikan, maka tak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Al-An’aam 48 16 Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka. Katakanlah "Aku tidak meminta upah kepadamu dalam menyampaikan Al-Quran." Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan untuk seluruh ummat. Al-An’aam 90 17 Dan ini Al-Quran adalah kitab yang telah Kami turunkan yang diberkahi; membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan agar kamu memberi peringatan kepada penduduk Ummul Qura Mekah dan orang-orang yang di luar lingkungannya. Orang-orang yang beriman kepada adanya kehidupan akhirat tentu beriman kepadanya Al-Quran dan mereka selalu memelihara sembahyangnya. Al-An’aam 92 18 Apakah mereka mengambil tuhan-tuhan selain-Nya? Katakanlah "Unjukkanlah hujjahmu! Al-Quran ini adalah peringatan bagi orang-orang yang bersamaku, dan peringatan bagi orang-orang yang sebelumku." Sebenarnya kebanyakan mereka tiada mengetahui yang hak, karena itu mereka berpaling. Al-Anbiyaa’ 24 19 Katakanlah hai Muhammad "Sesungguhnya aku hanya memberi peringatan kepada kamu sekalian dengan wahyu dan tiadalah orang-orang yang tuli mendengar seruan, apabila mereka diberi peringatan" Al-Anbiyaa’ 45 20 Sesungguhnya Kami telah mengutusmu Muhammad dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta pertanggungan jawab tentang penghuni-penghuni neraka. Al-Baqarah 119 21 Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman. Al-Baqarah 6 22 Manusia itu adalah umat yang satu. setelah timbul perselisihan, maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar, untuk memberi keputusan di antara manusia tentang perkara yang mereka perselisihkan. Tidaklah berselisih tentang Kitab itu melainkan orang yang telah didatangkan kepada mereka Kitab, yaitu setelah datang kepada mereka keterangan-keterangan yang nyata, karena dengki antara mereka sendiri. Maka Allah memberi petunjuk orang-orang yang beriman kepada kebenaran tentang hal yang mereka perselisihkann itu dengan kehendak-Nya. Dan Allah selalu memberi petunjuk orang yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. Al-Baqarah 213 23 Sesungguhnya Kami mengutus kamu sebagai saksi, pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, Al-Fath 8 24 Maha suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqaan Al-Quran kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam, Al-Furqaan 1 25 Dan tidaklah Kami mengutus kamu melainkan hanya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Al-Furqaan 56 26 Dan Kami turunkan Al-Quran itu dengan sebenar-benarnya dan Al-Quran itu telah turun dengan membawa kebenaran. Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan. Al-Israa’ 105 27 Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyap kan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan. Al-Kahf 56 28 Katakanlah "Hai manusia, sesungguhnya aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu." Al-Hajj 49 29 Berilah mereka peringatan dengan hari yang dekat hari kiamat yaitu ketika hati menyesak sampai di kerongkongan dengan menahan kesedihan. Orang-orang yang zalim tidak mempunyai teman setia seorangpun dan tidak pula mempunyai seorang pemberi syafa'at yang diterima syafa'atnya. Al-Mu’min 18 30 Dan tiada Kami jadikan penjaga neraka itu melainkan dari malaikat dan tidaklah Kami menjadikan bilangan mereka itu melainkan untuk jadi cobaan bagi orang-orang kafir, supaya orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin dan supaya orang yang beriman bertambah imannya dan supaya orang-orang yang diberi Al Kitab dan orng-orang mukmin itu tidak ragu-ragu dan supaya orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir mengatakan "Apakah yang dikehendaki Allah dengan bilangan ini sebagai suatu perumpamaan?" Demikianlah Allah membiarkan sesat orang-orang yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan tidak ada yang mengetahui tentara Tuhanmu melainkan Dia sendiri. Dan Saqar itu tiada lain hanyalah peringatan bagi manusia. Al-Muddatstsir 31 31 Katakanlah "Sesungguhnya ilmu tentang hari kiamat itu hanya pada sisi Allah. Dan sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan." Al-Mulk 26 32 Dan Al-Quran itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh umat. Al-Qalam 52 33 Sesungguhnya Kami mengutus kamu dengan membawa kebenaran sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Dan tidak ada suatu umatpun melainkan telah ada padanya seorang pemberi peringatan. Faathir 24 Itulah berbagai ayat Al-Quran yang menyebutkan dan membicarakan tentang peringatan. Semoga tulisan ini menambah wawasan dan pengetahuan kita semua. Baca Juga 15 Ayat Al-Quran Tentang Al-Quran Semoga bermanfaat. Diselesaikan pada 6 Shafar 1440 Hijriyah/16 Oktober 2018 Masehi.
allah mendahulukan peringatan sebelum memberikan